Archive for ‘Religi dan budaya’

September 11, 2011

Makna bulan Purnama dalam kehidupan orang Bali

Setiap bulan purnama orang bali yang beragama hindu akan menyediakan waktu untuk menghaturkan sembah bakti ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi, umat hindu sangat meyakini rasa kesucian yang tinggi pada hari purnama.
Umat Hindu meyakini bahwa Hyang Siwa mengutus para Dewa beserta para Apsari turun kedunia untuk menyaksikan bhakti umat manusia kehadapan Sang Hyang Siwa. Hyang Siwa merupakan Dewanya Sorga, maka umat hindu selalu tekun menghaturkan persembahan serta memuja kehadapan Hyang Siwa setiap Purnama dengan harapan bila nanti setelah meninggal, rohnya diberikan tempat di Sorga, atau kembali ke alam Moksa.

Sumber : Acara Agama, Drs. I.B.Putu Sudarsana, MBA, MM

April 23, 2011

Mantram kehadapan Sang Hyang Sarasvati

Sembahyang kehadapan Sang Hyang Sarasvati pada hari raya Sarasvati atau pada saat memujanya sebagai Sarasvati

Om Sarasvati namastubhyam

varade kama rupini

siddarambha karisyami

siddhir bhavantu me sada

Stuti & Stava 839.1

(Om Hyang Sarasvati dalam wujud-Mu sebagai penganugrah berkah, terwujud dalam bentuk yang sangat didambakan. Semogalah segala sukses atas waranugraha-Mu)

sumber : Tri Sandhya Sembahyang dan Berdoa, DR, Imade Titib

January 18, 2011

Karma Phala

Karma phala berasal dari dua kata yaitu karma dan phala. Karma berasal dari bahasa Sansekerta “Kr” yang berarti berbuat, bekerja, bergerak, bertingkah laku dan phala berarti buah/hasil. Berdasarkan hukum sebab akibat, atau aksi reaksi maka segala sebab pasti akan membuahkan akibat (Phala). Karma phala berarti buah dari perbuatan yang telah dilakukan atau yang akan dilakukan.

“Karma phala ngaran ika phalaning gawe hala hayu” (Slokantara 68), Karma phala merupakan akibat (phala) dari baik buruk suatu perbuatan (karma).

Karma phala memberi optimisme kepada setiap manusia, bahkan semua makhluk hidup. Dalam ajaran ini, semua perbuatan akan mendatangkan hasil bagi yang berbuat. Apapun yang kita perbuat, seperti itulah hasil yang akan kita terima. Yang menerima adalah yang berbuat, bukan orang lain. Karma Phala adalah sebuah Hukum Universal bahwa setiap perbuatan akan mendatangkan hasil. Dalam konsep Hindu, berbuat itu terdiri atas: perbuatan melalui pikiran, perbuatan melalui perkataan, dan perbuatan melalui tingkah laku, Ketiganya lah yang akan mendatangkan hasil bagi yang berbuat.Kalau perbuatannya baik, hasilnya pasti baik, demikian pula sebaliknya.

Dalam masa kehidupannya, setiap mahluk tidak akan putus-putusnya melakukan karma, oleh karena nya tidak akan putus-putus pula karma phala yang dinikmatinya. Ada yang sempat menikmatinya pada masa kehidupannya saat ini, ada pula yang dinikmatinya pada masa hidupnya yang akan datang, serta ada pula yang akan dinikmatinya di akhirat kelak.

Karma Phala terbagi atas tiga, yaitu:

  1. Sancita Karma Phala (Phala/Hasil yang diterima pada kehidupan sekarang atas perbuatannya di kehidupan sebelumnya). Sancita Karma Phala adalah Phala hasil perbuatan kita dalam kehidupan terdahulu yang belum habis dinikmati, merupakan benih yang akan menentukan kehidupan kita sekarang. Contoh dari hal ini adalah kelahiran manusia yang berbeda-beda, ada yang lahir dengan wajah rupawan atau buruk rupa, lahir di keluarga kaya atau miskin, tubuh yang cacat atau normal, hidup senang atau susah dan lain sebagainya, semuanya itu tidak lepas dari phala yang diperoleh akibat perbuatannya di kehidupannya terdahulu.
  2. Prarabdha Karma Phala (Karma/Perbuatan yang dilakukan pada kehikupan saat ini dan Phalanya akan diterima pada kehidupan saat ini juga).Prarabdha Karma Phala adalah Phala hasil perbuatan kita di kehidupan ini yang dinikmati saat ini juga tanpa tersisa lagi. Contohnya, kita bekerja untuk mendapatkan hasil kerja untuk menikmati kehidupan yang lebih baik.
  3. Kryamana Karma Phala (Karma/Perbuatan yang dilakukan pada kehidupan saat ini, namun Phalanya akan dinikmati pada kehidupan yang akan datang). Ryamana Karma Phala adalah Phala hasil perbuatan yang tidak sempat dinikmati pada saat berbuat sehingga harus diterima di kehidupan yang akan datang.

Ada pula pembagian Karma phala berdasarkan jenis karma yang dilakukannya yaitu :

Karma Sangga, yaitu segala perbuatan atau tugas kewajiban yang berhubungan dengan keduniawian, menyangkut kehidupan sosial manusia. Bila seseorang karyawan bekerja dengan tenaga jasmaninya akan menerima upah yang disebut “Karma Kara”, sedangkan karyawan yang bekerja dengan tenaga rohani/pikirannya akan menerima upah yang disebut “Karma Kesama”.

Karma Yoga, yaitu segala perbuatan yang dilakukan tanpa terikat keduniawian, tanpa memikirkan upahnya, karena keyakinan bahwa segala yang dilakukannya adalah atas kehendak Hyang Widhi sesuai dengan ethika agamanya.

Adapun yang mengadili/menentukan phala terhadap perbuatan yang dibawa oleh atma di akhirat dan dalam penjelmaan yang akan datang adalah Hyang Widhi, kerena beliaulah saksi agung yang Maha Tahu segala perbuatan mahluk (manusia). Pada saat beliau mengadili amal dan dosa dari perbuatan yang dibawa oleh atma, beliau bergelar Sang Hyang Yama Dipati, beliau memiliki bala tentara yang disebut dengan “Cikra Bala”, Jogor Manik bertugas menyiksa atma yang berdosa, Sang Suratma bertugas mencatat baik buruk karma dari semua mahluk di dunia.

Secara filsafat, Sang Suratma adalah alam pikiran atau Suksma Sarira (Badan Astral) dari mahluk yang merupakan tempat tercatatnya segala subha dan asubha karma (amal dosa perbuatan) dari mahluk , sehingga selalu dan tetap berbekas dalam alam pikirannya.

“Asing sagawenya dadi manusa ya ta iningetan de Bhatara Widhi, Apan sira pinaka paracaya Bhatara ring subha asubha karma ning janma” (Wraspati Tattwa – 22), Segala apa yang diperbuat dalam penjelmaan menjadi manusia, semua itulah dicatat oleh Bhatara Widhi (Tuhan) karena dia sebagai hakim dari baik buruk (amal dosa) perbuatan manusia.

“Bhatara Dharma ngaran nira Bhatara Yama, Sang Kuma yatnaken subha asubha prawertti nikang sekala janma” (Agastiya Parwa 335-15), Bhatara Dharma juga bergelar Bhatara Yama yang mengamati dan mengadili baik buruk perbuatan manusia, dan karma itu memberikan akibat yang besar terhadap kebahagiaan atau penderitaan hidup manusia.

Pengaruh Karma pulalah yang menentukan corak serta nilai dari watak manusia. Karma yang baik menciptakan watak yang baik, demikian pula sebaliknya, karma yang buruk memberikan watak yang buruk pula. Segala macam karma yang dilakukan oleh mahluk terutama manusia akan tercatat selalu dalam alam pikirannya yang kemudian menjadi watak dan berpengaruh pula terhadap atmanya, hukum karma yang mempengaruhi seseorang bukan saja diterima olehnya sendiri tapi juga diwarisi oleh keturunannya kelak.

“Sarwesam anyatha rupam jnanam anyat prawarata matur jnana nughawena praja wai cubhacubha”(Agastya parwa 382-4), Semua mahluk berbeda-beda rupa, watak dan keadaan hidup leluhurnya maka mahluk itu menemui kebahagiaan dan penderitaan (baik dan buruk).

“Papam karma krtam kincid jadi tasmin na drasyate nrpate satya putresu putreswapi ca nap tran” (Santi parwa 129-21), Walaupun phala kejahatan perbuatan seseorang tiada terlihat pada orang itu sendiri, meskipun raja, namun pasti akan terlihat pada anak cucu sampe buyutnya juga.

“Bhatara Dharma ngaran ira Bhatara Yama
sang kumayatnaken cubhacubha prawrti
sekala janma”. (Agastya Parwa 355.15)
Bhatara Dharma (juga) bergelar Bhatara Yama (sebagai Dewa Keadilan), adalah pelindung keadilan yang mengamat-amati (mengadili) baik buruk perbuatan manusia. Baik buruk dari (karma) itu akan memberi akibat yang besar terhadap kebahagiaan atau penderitaan hidup manusia.

Jadi hukum karma phala tidaklah menyebabkan manusia putus asa memberi effect negatif sehingga manusia menjadi patalis, pasif dan apatis atau menyerah pada nasib aja, melainkan memberikan dorongan spiritual aktif, dynamis dan positif kepada umat manusia untuk berbuat baik dalam mengatasi segala macam penderitaan hidupnya lahir bathin, sehingga akan membentuk watak manusia susila dengan karmanya yang tinggi.

sumber : http://www.parisada.org, http://balebanjar.com

January 8, 2011

Filosofi warna “poleng”



Anda pasti sering melihat kain dengan warna hitam putih pada lingkungan orang bali, kain tersebut biasanya digunakan pada upacara adat, keagamaan, pada patung atau pohon pohon besar yang ada dibali. Kain yang berwarna hitam putih tersebut oleh orang bali disebut kain “Poleng”.

Dalam kehidupan orang Bali sebenarnya dikenal ada tiga macam warna Poleng. Yang pertama, Warna poleng ”Hitam dan Putih” seperti  warna papan catur ini disebut dengan Poleng ”Rwa Bhineda”. Warna Poleng ini terdiri dari warna hitam dan putih yang merupakan simbolik dari Dharma dan Adharma, atau unsur positif dan unsur negatif. Rwa Bhineda, yaitu konsep tentang suatu perbedaan yang harus ada di dunia ini untuk menciptakan keharmonisan dan keseimbangan alam semesta. Dalam Chinese filosofi lebih dikenal dengan Yin-Yang.

Poleng yang kedua adalah perpaduan warna antara warna Hitam, warna Abu-abu, dan warna Putih. Warna Poleng ini disebut dengan ”Poleng Sudhamala”. Makna yang terkandung didalamnya yaitu warna Hitam merupakan simbol dari Adharma/ unsur negatif, warna putih merupakan simbol dari Dharma/ unsur positif. Sedangkan warna abu-abu ini merupakan sebagai warna penyelaras dari makna Dharma/ unsur Positif (Warna Putih) dan Adharma/ unsur negatif (warna Hitam).


Warna Poleng yang ketiga adalah ”Poleng Tridatu”, yaitu : kombinasi perpaduan dari tiga warna yaitu : Warna Merah, Warna Hitam dan Warna Putih. Warna Merah dalam ”Tridatu” ini merupakan lambang dari Rajas, sifat energik. Warna hitam dalam Tridatu ini melambangkan Tamas, atau sifat malas dan Warna Putih simbol dari Satwam yaitu kebijaksanaan atau kebaikan. Adapula yang memaknai Warna tridatu ini sebagai perlambang penyatuan dari Tri Murti yang mana warna Merah merupakan simbolik dari Dewa Brahma, Warna Hitam simbolik dari Dewa Wisnu dan Putih merupakan simbolik dari Dewa Siwa.

Dari berbagai sumber

January 6, 2011

Naga Banda : Maskot Bali De Vata Pada Liga Primer Indonesia

Bali De Vata adalah tim dari pulau Bali yang akan mengikuti Liga Primer Indonesia 2011. Bali De Vata mempunyai maskot Naga Banda yang sakral dalam kepercayaan masyarakat Hindu Bali.

Berikut adalah penjelasan mengenai Naga Banda :

Dalam mitologi Hindu di Bali, kulit bumi yang berlapis-lapis dan sungai yang mengalir berliku-liku digambarkan sebagai naga-naga yang membelit inti bumi, dimana inti bumi dilukiskan sebagai Bedawang Nala atau Bedawang Api. Konon penyebab terjadinya gempa bumi adalah karena naga-naga yang bertugas membelit Bedawang Nala ini terlena sekejap sehingga Bedawang dapat bergerak dan terjadilah gempa bumi.

Induk-induk naga dikenal dengan nama Sang Hyang Anantabhoga, Sang Hyang Basuki dan Naga Taksaka. Sang Hyang Anantabhoga menggambarkan lapisan kulit bumi yang memikul alam kita ini dengan punggungnya (Anantabhogastawa). Dari kulit bumi inilah timbul segala jenis tumbuh-tumbuhan yang diibaratkan bulu-bulu naga yang memberikan kita sandang pangan yang tidak habis-habisnya. Kata Anantabhoga berasal dari kata ananta yang berarti tidak habis dan bhiga yang berarti pangan.

Sementara Sang Hyang Naga Basuki, dalam Basukistawa dilukiskan dengan Indragiri atau penguasa gunung. Gunung dalam pandangan umat Hindu di Bali bukan saja sebagai linggih atau singgasana Ida Batara tetapi juga merupakan hulunya mata air yang melahirkan sungai yang berliku-liku, yang menyebabkan tanah menjadi subur.


Naga Taksaka digambarkan sebagai naga bersayap yang menguasai udara sehingga udara dapat memberikan kehidupan kepada semua makhluk. Sebab itulah Dalem yang menjadi raja Pulau Bali pada zaman dulu menetapkan bahwa beliau dan turunannya jika meninggal dapat memakai Naga Banda sebagai penebusan terhadap ikatan duniawi sewaktu beliau masih hidup. Rasa keterikatan inilah yang harus diputuskan dengan cara menghidupkan satwam, dalam upacara disimbolkan dengan pendeta yang memanah Naga Banda. Apabila ikatan duniawi ini tidak dapat dilepaskan maka Sang Hyang Atma akan dililit dibawa ke neraka. Namun, apabila ikatan ini mampu dilepaskan maka Sang Hyang Anantabhoga akan menjadi kendaraan Sang Hyang Atma untuk pergi ke sorga.

Warna  Tridatu ( Merah, Hitam, Putih) yang melingkari maskot naga banda diharapkan bisa membawa bali devata seperti filosofi Tridatu yaitu Satwam (Bijaksana) dalam mengarungi kompetisi IPL dengan sportif dan fair play, Rajah (Energi) Menjadi Tim yang disegani  dan Tamas (penghambat) bisa melalui segala rintangan  dalam mencapai puncak tertinggi dari kompetisi LPI.

sumber : dari berbagai sumber.

November 10, 2010

Sejarah dan jenis-jenis wayang di Indonesia

Asal usul dan perkembangan wayang tidak tercatat secara akurat seperti sejarah. Namun orang selalu ingat dan merasakan kehadiran wayang dalam masyarakat. Wayang merupakan salah satu buah usaha akal budi bangsa Indonesia. Wayang tampil sebagai seni budaya tradisional dan merupakan puncak budaya daerah.

Menurut Kitab Centini, tentang asal-usul wayang Purwa disebutkan bahwa kesenian wayang, mula-mula sekali diciptakan oleh Raja Jayabaya dari Kerajaan Mamenang/Kediri.

Wayang yang dalam bentuknya sederhana ialah asli Indonesia. Wayang memiliki landasan yang kokoh. Landasan utamanya memiliki sifat ‘Hamot’ ( keterbukaan untuk menerima pengaruh dan masukan dari dalam dan luar ) , ‘Hamong’ ( kemampuan untuk menyaring unsur-unsur baru itu sesuai nilai-nilai warna yang ada , ‘Hamemangkat’

Bermula zaman kuna ketika nenek moyang bangsa Indonesia masih menganut animisme dan dinamisme. Paduan dari animisme dan dinamisme ini menempatkan roh nenek moyang yang dulunya berkuasa, tetap mempunyai kuasa. Mereka tetap dipuja dan dimintai pertolongan. Roh nenek moyang yang dipuja ini disebut ‘hyang atau dahyang’. Orang bisa berhubungan dengan ‘hyang atau dahyang’ ini melalui seorang medium yang disebut ‘syaman’. Ritual pemujaan nenek moyang ‘hyang’ dan ‘syaman’ inilah yang akhirnya menjadi asal mula pertunjukkan wayang. ‘hyang’ menjadi wayang dan ‘syaman’ menjadi dalang. Sedangkan ceritanya ialah petualangan dan pengalaman nenek moyang. Bahasa yang digunakan ialah bahasa Jawa asli yang masih dipakai hingga sekarang. Jadi, wayang berasal dari ritual kepercayaan nenek moyang bangsa Indonesia disekitar tahun 1500 SM.

Sebelum kebudayaan Hindu memasuki wilayah nusantara, khususnya pulau Jawa, kesenian wayang sudah ada di nusantara.Berjalan dengan seiringnya waktu, wayang terus berkembang sampai pada masuknya agama Hindu di Indonesia sekitar abad keenam.

Sekitar abad ke 10 Raja Jayabaya berusaha menciptakan gambaran dari roh leluhurnya dan digoreskan di atas daun lontar. Bentuk gambaran wayang tersebut ditiru dari gambaran relief cerita Ramayana pada Candi Penataran di Blitar. Ceritera Ramayana sangat menarik perhatiannya karena Jayabaya termasuk penyembah Dewa Wisnu yang setia, bahkan oleh masyarakat dianggap sebagai penjelmaan atau titisan Batara Wisnu. Figur tokoh yang digambarkan untuk pertama kali adalah Batara Guru atau Sang Hyang Jagadnata yaitu perwujudan dari Dewa Wisnu.

Masa berikutnya yaitu pada jaman Jenggala, kegiatan penciptaan wayang semakin berkembang. Semenjak Raja Jenggala Sri Lembuami luhur wafat, maka pemerintahan dipegang oleh puteranya yang bernama Raden Panji Rawisrengga dan bergelar Sri Suryawisesa. Semasa berkuasa Sri Suryawisesa giat menyempurnakan bentuk wayang Purwa. Wayang-wayang hasil ciptaannya dikumpulkan dan disimpan dalam peti yang indah. Sementara itu diciptakan pula pakem ceritera wayang Purwa. Setiap ada upacara penting di istana diselenggarakan pagelaran Wayang Purwa dan Sri Suryawisesa sendiri bertindak sebagal dalangnya.

Pada jaman Majapahit usaha melukiskan gambaran wayang di atas kertas disempurnakan dengan ditambahi bagian-bagian kecil yang digulung menjadi satu. Wayang berbentuk gulungan tersebut, bilamana akan dimainkan maka gulungan harus dibeber. Oleh karena itu wayang jenis ini biasa disebut wayang Beber. Semenjak terciptanya wayang Beber tersebut terlihat pula bahwa lingkup kesenian wayang tidak semata-mata merupakan kesenian Kraton, tetapi malah meluas ke lingkungan diluar istana walaupun sifatnya masih sangat terbatas. Sejak itu masyarakat di luar lingkungan kraton sempat pula ikut menikmati keindahannya. Bilamana pagelaran dilakukan di dalam istana diiringi dengan gamelan laras slendro. Tetapi bilamana pagelaran dilakukan di luar istana, maka iringannya hanya berupa Rebab dan lakonnya pun terbatas pada lakon Murwakala, yaitu lakon khusus untuk upacara ruwatan. Kisah-kisah yang dipagelarkan umumnya merupakan lakon dalam Mahabharata dan Ramayana atau kisah seputar kerajaan Jenggala.

Semenjak runtuhnya kerajaan Majapahit dengan sengkala; Geni murub siniram jalma ( 1433 / 1511 M ), maka wayang beserta gamelannya diboyong ke Demak. Hal ini terjadi karena Sultan Demak Syah Alam Akbar I sangat menggemari seni kerawitan dan pertunjukan wayang.

Masuknya agama Islam ke Indonesia pada abad ke-15, membawa perubahan yang sangat besar terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Perubahan besar-besaran tersebut, tidak saja terjadi dalam bentuk dan cara pergelaran wayang, melainkan juga isi dan fungsinya. Bentuk wayang yang semula realistik proporsional seperti tertera dalam relief candi-candi, distilir menjadi bentuk imajinatif seperti sekarang ini. Selain itu, banyak sekali tambahan dan pembaharuan dalam peralatan seperti kelir atau layar, blencong atau lampu sebagai alat penerangan pada pertunjukkan wayang kulit dan juga mempunyai makna simbolik, yaitu memanfaatkan masukan serta pengaruh budaya lain baik dari dalam maupun dari luar Indonesia, debog yaitu pohon pisang untuk menancapkan wayang, dan masih banyak lagi.

Pada masa itu sementara pengikut agama Islam ada yang beranggapan bahwa gamelan dan wayang adalah kesenian yang haram karena berbau Hindu. Timbulnya perbedaan pandangan antara sikap menyenangi dan mengharamkan tersebut mempunyai pengaruh yang sangat penting terhadap perkembangan kesenian wayang itu sendiri.

Untuk menghilangkan kesan yang serba berbau Hindu dan kesan pemujaan kepada arca, maka timbul gagasan baru untuk menciptakan wayang dalam wujud baru dengan menghilangkan wujud gambaran manusia.

Asal usul wayang Indonesia menjadi jelas dan mudah dibedakan dengan seni budaya sejenis yang berkembang di India, Cina, dan negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Tidak saja berbeda bentuk serta cara pementasannya, cerita Ramayana dan Mahabrata yang digunakan juga berbeda. Cerita terkenal ini sudah digubah sesuai nilai dan kondisi yang hidup dan berkembang di Indonesia. Keaslian Wayang bisa ditelusuri dari penggunaan bahasa seperti Wayang, kelir, blencong, kepyak, dalang, kotak dan lain-lain. Kesemuanya itu menggunakan bahasa Jawa asli. Berbeda dengan cempala, yaitu alat pengetuk kotak yang menggunakan bahasa sansekerta. Biasanya wayang selalu menggunakan bahasa campuran yang biasa disebut ‘basa rinengga’.

Kekuatan utama budaya Wayang ialah kandungan nilai falsafahnya. Wayang yang tumbuh dan berkembang sejak lama itu ternyata berhasil menyerap berbagai nilai-nilai keutamaan hidup dan dapat terus dilestarikan dalam pertunjukkan wayang.

Wayang juga dapat secara nyata menggambarkan konsepsi hidup ‘sangkan paraning damadi’, manusia berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya.

Di Indonesia ada berbagai jenis wayang seperti berikut ini:
1. Wayang purwa
Wayang purwa disebut juga wayang kulit karena terbuat dari kulit lembu. Penyaduran sumber cerita dari Ramayana dan Maha barta kedalam bahasa jawa kuna dilakukan pada masa pemerintahan raja Jayabaya .pujangga yang terkenal pada masa itu ialah empuSedah ,empu panuluh empu Kanwa. Sunan Kalijaga salah seorang walisanga (demak,abad XV)adalah orang yang pertama kali menciptakan wayang dari kulit lembu . selain kulit lembu ada juga yang menggunakan kulit kerbau bahkan disuatu daerah ada yang menggunakan dengan kulit manusia.Dalang yang terkenal ialah Ki Narto Sabdo,Ki haji Anom Suroto,kitimbul Hadi Prayitno,Mas bayu aji dll.

2. Wayang golek
Banyak orang yang menyebut wayang tengul. Wayang ini terbuat dari kayu dan diberi baju seperti layaknya manusia. Sumbernya diambil dari sejarah ,misalnya cerita Untung surapati ,Batavia Sultan Agung,Trunajaya dll. Wayang golek tidak menggunakan kelir\layar seperti wayang kulit.

3. Wayang krucil
Banyak orang menamakanya wayang kllithik.Wayang ini terbuat dari kayu,bentuknya mirip wayang kulit. Biasanya meceritakan DamarWulan dan Majapahit. Untuk menancapkan Wayang klithik tidak ditancapkan di pelepah pisang seperti wayang kulit tetapi menggunakan kayu yang telah diberi lubang lubang.

4. Wayang Beber

Wayang Beber terbuat dari kain atau kulit lembu yang berupa beberan atau lembaran.tiap beberan merupakan satu adegan cerita.bbila sudah tak dimainkan maka bisa digulung .Wayang ini dibuat pada zaman kerajaan majapahit.

5. Wayang gedog
Bentuknya hamper mirip wayang kulit.sumber ceritanya berasal dari jawa seperti:Banten,Singasari,Mataram,Kediri dll.wayang gedog hapir punah kita hanya dapat menjumpai tahun 1400

6. Wayang Suluh

Pementasan wayang suluh ini biasanya untuk penerangan masyarakat. Wayang ini tergolong wayang modern.terbuat dari kulit yang diberi pakaian lengkap lazimya manusia gambarnya pun mirip manusia .ceritanya diambil dari kisah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah.


7. Wayang Titi

Wayang titi adalah wayang china. Sumbernya berasal dari cerita china. Wayang ini bisa kita jumpai di perkampungan china atau klenteng.

8. Wayang Madya
Wayang ini di ciptaakan oleh K.G Mangkungara IV pada awal abad XVIII. Sumber ceritranya diambil dari cerita Pandawa setelah perang Baratayuda,misalnya prabu Parikesit

9. Wayang Wahyu
Wayang yang satu ini juga sering disebut wayang Bibel
Cerita wayang ini berasal dari kitab injil. Diciptakan oleh Bruder Themotheos untu menyiarkan agama Kristen.

10. Wayang Orang
Cerita wayng purwa yang dipentaskan oleh orang dengan busana seperti wayang sumbernya pun sama dengan wayan purwa.Perkumpulan yang terkenal seperti mNgesti Pandawa
(Semarang),Sriwerdari(Surakarta)

11. Wayang Pancasila
Adalah cerita wayang mirp wayang purwa bedanya tokoh-tokohnya adalah pejuang-pejuag bangsa Indonesia ceritanya pun tentang perjuangan Bangsa Indonesia

dari berbagai sumber.

October 7, 2010

Pendapat saya tentang lagu “Peri Cintaku” oleh Marcell

Tersentak rasanya ketika mendengar lagu dengan vokal yang sangat baik oleh Marcell, bukan karena suaranya yang membuat lagu tersebut menjadi begitu dahsyat tetapi isi dari lagu tersebut, yaitu Liriknya.
saat ini begitu banyak lagu religi tapi mungkin yang saya rasa lagu lagu tersebut sangat banyak yang cuma bertopeng hanya untuk kepentingan komersialisme.

coba diserapi makna yang ada didalam lirik lagu ini

Di dalam hati ini hanya satu nama
Yang ada di tulus hati ku ingini
Kesetiaan yang indah takkan tertandingi
Hanyalah dirimu satu peri cintaku

Benteng begitu tinggi sulit untuk ku gapai
Huuuuuu

Aku untuk kamu, kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda
Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi

Benteng begitu tinggi sulit untuk ku gapai
Huuuuuu

Aku untuk kamu, kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda
Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi

Bukankah cinta anugerah berikan aku kesempatan
Tuk menjaganya sepenuh jiwa oooh

(aku untuk kamu, kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda)
Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi

(aku untuk kamu, kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda)

Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi

Yang menjadi point penting dalam lagu ini menurut saya adalah pada bagian lirik dibawah ini:

Aku untuk kamu, kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda
Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi

Mudah mudahan lirik ini tidak menjadi bahan perdebatan karena cinta itu indah, cinta milik kita semua dan Tuhan mencintai kita semua.

silahkan menikmati lagunya, dan dengarkan dengan hati kita yang damai.

September 24, 2010

Teks Mantram Tri Sandhya dan terjemahan

a. Om om om
bhur bhuvah svah
tat savitur varenyam
bhargo devasya dhimahi
dhiyo yo nah pracodayat

terjemahan:

Om Sang Hyang Widhi, kami menyembah kecemerlangan dan kemahamuliaan Sang Hyang Widhi yang menguasai bumi, langit dan sorga, semoga Sang Hyang Widhi menganugrahkan kecerdasan dan semangat pada pikiran kami.

b. Om Narayana evedam sarvam
yad bhutan yac ca bhavyam,
niskalanko niranjano nirvikalpo
nirakhyatah suddo devo eko
narayanah na dvitiyo asti kascit

Terjemahan:

Om Sang Hyang Widhi, semua yang ada berasal dari Sang Hyang Widhi baik yang telah ada maupun yang akan ada, Sang Hyang Widhi bersifat gaib tidak ternoda tidak terikat oleh perubahan, tidak dapat diungkapkan, suci , Sang Hyang Widhi Maha Esa, tidak ada yang kedua.

c. Om tvam sivas tvam mahadevah
isvarah paramesvarah,
brahma visnus ca rudras ca

purusah parikirtitah.

terjemahan

Om Sang Hyang Widhi, Engkau disebut Siwa yang menganugrahkan kerahayuan, Mahadewa (dewata tertinggi), Iswara (mahakuasa). Parameswara (sebagai maha raja diraja), Brahma (pencipta alam semesta dan segala isinya), Visnu (pemelihara alam semesta beserta isinya), Rudra (yang sangat menakutkan) dan sebagai Purusa (kesadaran agung).

d. Om papo ham papakarmaham
papatma papasambhavah
trahi mam pundarikaksah

sabahya bhyantarah sucih.

terjemahan:

Om Sang Hyang Widhi, hamba ini papa, perbuatan hambapun papa, kelahiran hamba papa, lindungilah hamba Sang Hyang Widhi, Sang Hyang Widhi yang bermata indah bagaikan bunga teratai, sucikan jiwa dan raga hamba.

e. Om ksamasva mam mahadevah

sarvaprani hitankarah

mam moca sarva papebyah

palaayasva sadasiva.

terjemahan:

Om Sang Hyang Widhi, ampunilah hamba, Sang Hyang Widhi yang maha agung anugrahkan kesejahteraan kepada semua makhluk. Bebaskanlah hamba dari segala dosa lindungilah hamba Om Sang hyang Widhi.

f. Om ksantavyah kayiko dosah

ksantavyo vaciko mama

ksantavyo manaso dosah

tat pramadat ksamasva mam.

Terjemahan:

Om Sang Hyang Widhi, ampunilah dosa yang dilakukan oleh badan hamba, ampunilah dosa yang keluar melalui kata kata hamba, ampunilah dosa pikiran hamba, ampunilah hamba dari kelalaian hamba.

Om Santih Santih Santih Om.

Terjemahan :

Om Sang Hyang Widhi anugrahkanlah kedamaian, kedamaian, kedamaian selalu.

Demikianlah mantram Tri Sandhya dan terjemahannya. Dengan pengertian dan pemahaman makna, sraddha keyakinan kita kepada-Nya akan semakin mantap.